Selasa, 14 Desember 2010

Asfiksia

Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen (O2) dan

berlebihnya kadar karbon dioksida (CO2) secara bersamaan dalam darah dan jaringan tubuh akibat
gangguan pertukaran antara oksigen (udara) dalam alveoli paru-paru dengan karbon dioksida dalam
darah kapiler paru-paru. Kekurangan oksigen disebut hipoksia dan kelebihan karbon dioksida disebut
hiperkapnia.
Ada 4 stadium gejala / tanda dari asfiksia, yaitu :
1. Fase dispnu / sianosis
2. Fase konvulsi
3. Fase apnu
4. Fase akhir / terminal / final
Fase dispnu / sianosis asfiksia berlangsung kira-kira 4 menit. Fase ini terjadi akibat rendahnya kadar
oksigen dan tingginya kadar karbon dioksida. Tingginya kadar karbon dioksida akan merangsang
medulla oblongata sehingga terjadi perubahan pada pernapasan, nadi dan tekanan darah. Pernapasan
terlihat cepat, berat, dan sukar. Nadi teraba cepat. Tekanan darah terukur meningkat.
Fase konvulsi asfiksia terjadi kira-kira 2 menit. Awalnya berupa kejang klonik lalu kejang tonik
kemudian opistotonik. Kesadaran mulai hilang, pupil dilatasi, denyut jantung lambat, dan tekanan
darah turun.
Fase apnu asfiksia berlangsung kira-kira 1 menit. Fase ini dapat kita amati berupa adanya depresi pusat
pernapasan (napas lemah), kesadaran menurun sampai hilang dan relaksasi spingter.
Fase akhir asfiksia ditandai oleh adanya paralisis pusat pernapasan lengkap. Denyut jantung beberapa
saat masih ada lalu napas terhenti kemudian mati.
Etiologi dan Patofisiologi
Penyebab asfiksia terbagi 2 yaitu, penyebab asfiksia wajar dan tidak wajar. Penyebab asfiksia wajar
karena penyakit seperti difteri, tumor laring, asma bronkiale, pneumotoraks, pneumonia, COPD, reaksi
anafilaksis, dan lain-lain. Penyebab asfiksia tidak wajar karena emboli, listrik, racun (barbiturat), dan
adanya halangan udara masuk ke saluran pernapasan secara paksa.
Emboli terbagi atas 2 macam, yaitu emboli lemak dan emboli udara. Emboli lemak disebabkan oleh
fraktur tulang panjang. Emboli udara disebabkan oleh terbukanya vena jugularis akibat luka.
Ada 5 keadaan yang dapat menghalangi masuknya udara ke saluran pernapasan secara paksa, yaitu :
1. Strangulation yaitu penekanan dinding saluran pernapasan.
2. Suffocation yaitu penutupan lubang saluran pernapasan bagian atas.
3. External pressure of the chest yaitu penekanan dinding dada dari luar (asfiksia traumatik).
4. Drawning (tenggelam) yaitu saluran napas terisi air.
5. Inhalation of suffocating gases.
Ada 3 jenis strangulation, yaitu :
1. Hanging (penggantungan)
2. Strangulation by ligature (penjeratan)
3. Manual strangulation (pencekikan)
Ada 2 jenis suffocation, yaitu :
1. Smothering (pembekapan)
2. Chocking (tersedak)
4 tanda pada otopsi pemeriksaan luar, yaitu :
1. Muka sianotik (warna biru keunguan).
2. Tardieu’s spot pada konjungtiva bulbi dan palpebra.
3. Lebam mayat cepat timbul, luas, dan lebih gelap.
4. Busa halus keluar dari hidung dan mulut.
Muka sianotik disebabkan tubuh mayat lebih membutuhkan HbCO2 daripada HbO2.
Tardieu’s spot merupakan bintik-bintik perdarahan (petekie) akibat pelebaran kapiler darah setempat.
Lebam mayat cepat timbul dan luas karena terhambatnya pembekuan darah dan meningkatnya
fragilitas / permeabilitas kapiler. Hal ini akibat meningkatnya kadar CO2 sehingga darah dalam
keadaan lebih cair. Lebam mayat lebih gelap karena meningkatnya kadar HbCO2.
Busa halus disebabkan adanya fenomena kocokan pada pernapasan kuat.
6 tanda pada otopsi pemeriksaan dalam, yaitu :
1. Organ dalam tubuh lebih gelap & lebih berat dan ejakulasi pada mayat laki-laki akibat
kongesti / bendungan alat tubuh & sianotik.
2. Darah termasuk dalam jantung berwarna gelap dan lebih cair.
3. Tardieu’s spot pada pielum ginjal, pleura, perikard, galea apponeurotika, laring, kelenjar timus
dan kelenjar tiroid.
4. Busa halus di saluran pernapasan.
5. Edema paru.
6. Kelainan lain yang berhubungan dengan kekerasan seperti fraktur laring, fraktur tulang lidah
dan resapan darah pada luka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar